Posts

L.I.P.N.A.G

Lama memakai prinsip jika hidup adalah perjudian tapi hari ini gue berpikir jika itu salah. Jika semua adalah perjudian kita hanya bisa menunggu keajaiban datang. Tapi yang sebenarnya ialah kita buat keajaiban itu datang ke kita.  Sekali lagi, bukan menunggu keajaiban datang tapi kita yang buat keajaiban itu datang menghampiri. Dan keajaiban itu datang ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan. Jadi yang sebenarnya kita tunggu ialah kesempatan itu tetapi dengan cara memperbaiki keterampilan yang kita punya.

Desepsi

Jujur, semakin mempelajari suatu hal, semakin banyak percabangan pertanyaan yang ada di otak. Semakin tinggi juga tingkat ketidak-percayaan dari logika yang tidak setuju dengan persepsi maupun fakta khalayak tentang hal itu. Saya berpikir, tidak tahu apapun mungkin lebih baik daripada tahu segalanya. Jika kebanyakan orang menjadi arogan ketika sok mengetahui segalanya. Lain hal dengan saya disini. Saya selalu menanamkan sifat keraguan atas apapun yang ada di dunia ini, apapun. Mempunyai sifat curious bagi banyak orang adalah kelebihan. Tetapi untuk saya ini kekurangan. Dimana setiap menemui suatu hal, langsung timbul banyak pertanyaan di otak yang gila ini.   Tentang segala hal seperti religion, science atau apapun yang berhubungan dengan hal-hal yang saya kerjakan. Dan itu sangat mengganggu.

Andai Itu Memang Ada

Hahaha. Kadang saya pikir jika itu tidak benar-benar ada. Joli-joli yang khidmat dengan dikelilingi kuning dan harum surga. Kepercayaan sedikit pupus karena dikubur oleh beberapa pecandu kecewa. Di beberapa sisi memang semua terlihat nyata. Tapi di sisi lainnya semua seakan hanya bayangan ilusi yang mungkin didoktrin dalam alam bawah sadar jika kita harus percaya jika itu memang ada. Entah ini subyektif atau obyektif. Tapi saya hanya melihat dari persepsi mata hitam ini jika sekarang saya amat tidak percaya akan hal itu. Bualan nenek moyang untuk membuat anak cucunya lebih saling menghargai dan mengkasihi.  Tapi dari apa yang saya yakini, semua itu kosong, bualan, kebohongan. Kenapa manusia selalu dijejali oleh sesuatu yang semu. Yang tidak berwujud tapi seakan nyata dan itu memang ada. Kenapa cara kerja otak kita sangat menerima itu sehingga membuat satu kesalahan besar yang sukar untuk diselami. Jika anda yakin, itu hak anda. Tapi coba pikirkan lagi. Apa ini semua bukan paksaan?

(Mungkin) Cuma Tuhan Yang Tahu

Setiap ham berhak untuk berubah kearah yang lebih baik. Setiap jiwa bebas menentukan jalan pilihannya tanpa di dogma apapun oleh makhluk sekitarnya. Tapi seberapapun berubah, ada keputihan jiwa yang bersenggama dengan ketulusan yang menghasilkan keikhlasan. Ikhlas untuk memberikan segalanya, ikhlas untuk menjalankan segalanya. Ini baik (mungkin) dan ini buruk (mungkin). Jiwa ini terlalu bersih. Hingga (mungkin) cuma Tuhan yang tahu jika tulus itu masih berdiri tegak di relung jiwa yang tidak pernah gelap akan dendam. Semoga jiwanya tahu ada ham kecil disini yang rela berdarah dan bernafas hanya untuk senyumnya. Amin.

UNDERDOG!

Guru terbaik adalah.. Diri sendiri. Mungkin salah tapi seenggaknya itu yang ada di pikiran gue detik ini. Bicara memang gampang tp prakteknya yang susah. Sering beri advice ke orang belum tentu dirinya tinggi dan bisa melakukan advice yang dia berikan. Ini serius. Ada beberapa orang yang gagal untuk melakukan advice nya sendiri. Sekali lagi, ngomong gampang, prakteknya susah. Sekarang, detik ini, gue mempraktekan apa yang udah pernah gue camkan dulu. "Better to conquer yourself than winning a thousand battles". Itu adalah kutipan dari mahkluk yang gue kagumi, Buddha. Detik ini gue sedang ingin ngalahin diri gue sendiri. Ngalahin ego yang udah gue buat. Ngalahin gengsi yang begitu tinggi. Dan gue harap dapet apresiasi dari apa yang gue lakukan. Bukan apresiasi yang berlebihan. Cukup senyum dan lihat apa yang gue lakukan. Gue akan tunduk dan menjadi underdog. Bukannya enak untuk direndahkan? Ya, memang.  Saat ini, rendahkan gue karena besok gue ingin berdiri tegap. Saat ini, bi...

Di Senja Ku Menyerah

Apakah kamu liat sore tadi? Bukankan itu definisi dari indah Bagaimana dengan senyuman perpisahan sang dewa api tadi? Bukankah itu definisi dari senja Apakah kamu tahu? Dewa api tidak pernah memberikan senyuman perpisahan Apakah kamu tahu? Jika dia tidak pernah terlambat menyinari kita setiap pagi Dan dia selalu tepat janji Jika jingga disebut senja Abu-abu akan kusebut lama Dan bagaimana dengan merah? Ya aku jujur, aku menyerah Diri ini yang sombong akan jiwa Diri ini yang angkuh untuk tidak pernah merasakan senyawa Banyak monyet diluar sana mewarnai dinding perbatasan Dinding yang membatasi kita Untuk sekedar sapa dan sedikit berkata-kata Tapi tolong lubangi dinding itu Sedikit saja Dan lihat diri ini sedang berjuang Berjuang untuk menghancurkannya Jika diri ini terlihat angkuh kemarin Mari saling menunduk dan berpikir Ini semua bukan akhir Sejujurnya, benteng yang kubuat sedemikian rupa dari dulu hancur berantakan sore tadi Ku malu diantara para raja Karena ku menyerah di senja

Bungkam dan Tikam

Hari ini semesta mengajarkan gue 1 hal lagi tentang hidup. Jika kita harus memandang rata semua pribadi di dunia ini. Tidak ada yang ditinggikan tidak ada yang direndahkan. Yang ada hanya balas budi. Jika mereka loyal, kita harus bayar juga dengan loyal. Tapi jika kita ditusuk, tusuk balik. Semesta mengajarkan bagaimana cara hidup dengan cara hitam hari ini. Bungka yang harus bungkam, tikam apa yang harus ditikam. Hidup terlalu pendek hanya untuk diinjak-injak. Mulai hari ini saya tahu, mana yang harus dipegang tangannya dan diajak berlari dan mana yang harus diludahi. Sentil apa yang harus disentil, pukul apa yang harus pukul, makan apa yang harus dimakan. Jangan salah mengartikan dan memperlakukan orang, itu intinya. Hidup? Terlalu pendek hanya untuk direndahkan. Berdiri dan tunjukan!